Gambar ruang belajar Mahasiswa : Tjung teck,CH UNPRI FAKULTAS PSIKOLOGI KELAS B

Gambar ruang belajar Mahasiswa : Tjung teck,CH  UNPRI FAKULTAS PSIKOLOGI KELAS B
Gambar ruang belajar Mahasiswa Tjung teck UNPRI FAKULTAS PSIKOLOGI KELAS B

Kamis, 28 Juni 2012

Tipologi-tipologi Berdasarkan Temperamen SEMESTER 2

Tipologi-tipologi Berdasarkan Temperamen

Oleh

Sri Hartini, S.Psi, M.Si

TIPOLOGI J. BAHNSEN

Julius Bahsen (1830-1881) dgn karyanya berjudul “Beitrage zur Caracterologie” yg terbit 2 jilid, terbitan pertama (1867) menjadi sangat terkenal; Rumke menyebut Bahnsen org yg pertama sekali mengunakan istilah Characterologie. Ia berpendapat bahwa kepribadian ditentukan oleh tiga macam keadaan kejiwaan, yaitu:

1.a. Temperamen

Temperamen menurutnya ditentukan oleh 4 faktor, yaitu; L spontanitas, L reseptivitas, L impresionalibitas, dan L reaktivitas.

- Spontanitas (Spontaneity)

pontanitas tampak jika orang menentukan sikap atau bertindak. Sikap atau tindakan dikatakan spontan apabila diambil atau dilakukan tanpa paksaan dari orang lain.

- Reseptivitas (Reseptivity)

Reseptivitas yaitu cara bagaimana orang menerima kesan, apakah cepat atau lambat.

- Impresionalibitas (Impressionability)

Yang dimaksud dengan impresionabilitas yaitu mendalam atau tidaknya pengaruh sesuatu itu diterima oleh jiwa.

- Reaktivitas (Reactivity)

Reaktivitas itu adalah lama atau tidaknya sesuatu kesan mempengaruhi jiwa.

1. b. Kemauan

Kemauan oleh Bahsen dipandang penting dalam mengendalikan sebahagian besar dari tingkah laku manusia.

2. Posodyne

Posodyne adalah ketabahan manusia dalam menghadapai kesulitan hidup. Hal ini ada 2 macam:

(a) Posodyne kuat, apabila kita sabar dan tegar pada waktu menghadapi kesukaran (kesulitan) serta kita percaya akan datangnya hari yang baik, dsb.

(b) Posodyne lemah, dalam hal ini sikap putus asa, cepat menyerah, hilangnya kepercayaan terhadap akan datangnya hari yang lebih baik, dsb.

3. Daya Susila

Yang dimaksud dengan daya susila yaitu kecakapan manusia untuk membedakan & meyakini hal-hal yang baik & yang buruk (seperti: adil & tidak adil, patut & tidak patut, susila & tidak susila, dsb) serta untuk mengatur tingkah laku sesuai dengan hal tersebut.

D. TEORI E. MEUMANN

Ernst Meumann (1862-1915) beliau adalah seorang sarjana yang ideal pada zamannya. Ia belajar di Tubigen, Berlin, Halle, Bonn dalam ilmu-ilmu theologi, kedokteran, fisika, filsafat, dan psikologi.

Ia mengatakan kepribadian adalah watak (karakter) sebagai disposisi kemauan yang manifes dalam perbuatan. Dapat dilihat Secara bagan:

Watak Kemauan Perbuatan

kemauan disini mengandung tiga aspek pokok yaitu;

1.Aspek yg mempunyai dasar kejasmanian.
2.Aspek afektif menjelma menjadi temperamen.
3.Aspek kecerdasan (intelligenz)

1. Aspek yang mempunyai dasar kejasmanian

Dipandang dari segi ini, Meumann dapat disebut bersifat fisiologis. Sifat-sifat kemauan itu mempunyai dasar fisiologis dan pada pokoknya tergantung pada system syaraf. Aspek ini mencakup:

a) Intensitas atau kekuatan kemauan

b) Lama atau tidaknya orang melakukan tindakan kemauan

c) Sebagai taraf perkembangan kemauan yang terjadi di berbagai individu yang juga punya dasar fisiologis. Taraf-taraf tersebut adalah:

(i) Disposisi untuk bertindak secara instingtif atau impulsive, dan lawannya yaitu bertindak hati-hati & menjangkau ke depan (melihat lebih jauh),

(ii) disposisi untuk bersikap menaruh perhatian (attentive),

(iii) disposisi untuk menentukan persetujuan,

(iv) disposisi untuk bertindak secara kebiasaan atau mekanis.

2. Aspek afektif

Aspek ini menjelma dalam temperamen. Mneumann mencontohkannya pada sifat-sifat fundamental perasaan. Mula-mula ia menganalisis temperamen, kemudian dia menganalisis tentang perasaan.

a) Berdasarkan atas mudah & tidaknya terpengaruh oleh perangsang dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu: mudah dan sukar.

b) Berdasarkan kualitasnya dapat dibedakan menjadi 2 macam: senang dan tidak senang.

c) Berdasarkan intensitasnya (kekuatan atau kejelasannya) ada 2 macam: kuat/mendalam dan tak kuat/tak mendalam.

d) Berdasarkan atas lama berlangsungnya, yaitu lama atau tidaknya ada dalam kesadaran, dibedakan menjadi 2 macam: lama dan tidak lama

e) Berdasarkan atas pengaruhnya (effect-nya setelah pernah tidak lagi disadari, dibedakan atas 2 macam: lama dan singkat.

f) Berdasarkan atas genesisnya dapat dibedakan menjadi 2: ditimbulkan oleh rangsangan dari luar atau dari dalam dan ditimbulkan oleh isi-isi kesadaran.

g) Berdasarkan atas hubungannya dengan subyek dibedakan atas 2:

(1) Obyektif, misalnya hari yang cerah, pagi yang indah, dsb.

(2) Subyektif, yaitu perasaan dipandang sebagai afeksi subyek semata-mata.

Tipe-tipe Disposisi Afektif (temperamen) menurut Meumann.

3. Aspek kecerdasan (intelligence).

Aspek kecerdasan ini mencakup 3 macam kualitas, yaitu:

(a)Yang berhubungan dengan sifat kerja mental dlm hal ini dapat di bedakan atas tiga kualitas berpikir, yaitu;

1) Berpikir produktif

2) Berpikir reproduktif dan

3) berpikir tidak produktif

(b) Yang melingkupi taraf kebebasan intelektual; dlm hal ini dpt dibedakan atas;

1) Yang tinggi taraf kebebasannya-bebas

2) Yang rendah taraf kebebasannya- tak bebas

(c) Yang melingkupi perbedaan-perbedaan dalam cara berpikir. Dlm hal ini;

1) Berpikir analitis dan lawannya berpikir sintetis,

2) Berpikir intuitif dan lawannya berpikir distruktif.

E. TIPOLOGI HEYMANS

Heymans berpendapat bahwa kepribadian manusia berlain-lainan satu dengan yang lainnya dan banyak macamnya, boleh dikatakan tidak terhingga.

Dasr klasifikasinya ialah 3 macam kualitas kejiwaan, yaitu:

1. Emosionalitas

Yaitu mudah atau tidaknya perasaan orang terpengaruh oleh kesan-kesan. Pada dasarnya semua orang memiliki kecakapan ini, yaitu kecakapan untuk menghayati sesuatu perasaan karena pengaruh sesuatu kesan, namun kecakapan tersebut dapat berlain-lainan sekali tingkatannya, di sini emosionalitas digolongkan atas 2 golongan, yaitu:

a) Golongan yang emosional, artinya yang emopsionalitasnya tinggi, yang sifat-sifatnya antara lain impulsif, mudah marah, suka tertawa, perhatian tidak mendalam, tidak suka tenggang-menenggang, tidak praktis, tetap di dalam pendapatnya, dapat dipercaya dalam soal keuangan.

b) Golongan yang tidak emosional, yaitu golongan yang emosionalitasnya tumpul atau rendah, yang sifat-sifatnya antara lain berhati dingin, berhati-hati dalam menentukan pendapat, praktis, suka tenggang-menenggang, jujur dalam batas-batas hokum, pandai menahan nafsu birahi, memberikan kebebasan kepada orang lain.

2. Proses Pengiring

Yaitu banyak sedikitnya pengaruh kesan-kesan terhadap kesadaran setelah kesan-kesan itu sendiri tidak lagi ada dalam kesadaran.

Proses pengiring ini dibagi atas 2 golongan, yaitu:

a) Golongan yang proses pengiringnya kuat (yang berfungsi sekunder), yang sifat-sifatnya antra lain tenang, tidak lekas putus asa, bijaksana, suka menolong, ingatan baik, dalam berpikir bebas, teliti, konsekuen, dalam politik bias bersifat moderat atau konservatif.

b) Golongan yang proses pengiringnya lemah (golongan yang berfungsi primer), sifat-sifatnya antara lain tidak tenang, lekas putus asa, ingatan kurang baik, tidak hemat, tidak teliti, suka membeo, dalam politik radikal, egoistis.

3. Aktivitas

Adapun yang dimaksud dengan aktivitas di sini adalah sedikit banyaknya orang menyatakan diri, menjelmakan perasaan-perasaannya serta pikiran dalam tindakan yang spontan, di sini Heymans juga menggolongkannya menjadi 2 golongan, yaitu:

a) Golongan aktif, yaitu golongan yang memiliki sifat-sifat suka bergerak, sibuki, riang-gembira, kuat menentang penghalang, mudah mengerti, praktis, loba akan uang, pandangan luas, setelah bertengkar lekas berdamai, suka tenggang-menenggang.

b) Golongan yang tidak aktif, yaitu golongan yang walaupun ada alasan-alasan yang kuat belum juga mau bertindak, sifat-sifat golongan ini antara lain: lekas mengalah, lekas putus asa, segala persoalan dipandang berat, perhatian tidak mendalam, tidak praktis, suka membeo, nafsu birahi kerap kali menggelora, boros, segan membuka hati.

Aktif

Proses Pengiring Kuat

Tidak aktif

Emosional

Aktif

Proses Pengiring Lemah

Tidak aktif

Kepribadian

Aktif

Proses Pengiring Kuat

Tidak aktif

Tidak emosional

Aktif

Proses Pengiring Lemah

Tidak aktif

Jadi, kepribadian menurut Heymans: Suatu bentuk afektif yang terdiri atas perasaan emosional & tidak emosional dari individu atau seseorang yang diiringi proses kuat & lemah, aktif maupun tidak aktif pada perilaku yang ditimbulkan.

F. TEORI KEPRIBADIAN G. EWALD

Menurut G. Ewald, kepribadian adalah temperamen & character atau watak.

1. Temperamen

Temperamen adalah konstitusi psikis, yang berhubungan dengan konstitusi jasmani: jadi di sini keturunanmemainkan peranan penting, sedang pengaruh pendidikan dan lingkungan boleh dikatakan tidak mempunyai peran sama sekali.

Ia juga berpendapat bahwa temperamen itu erat hubungannya dengan biotonus (tegangan hidup, kekuatan hidup, tegangan energi), yaitu intensitas irama hidup, yang mengatur kecepatan serta kekuatan kegiatan-kegiatan hidup. Biotonus ini ada selama hidup dan sifatnya tetap (konstan).

Biotonus ini tergantung pada faktor-faktor kejiwaan yang merupakan temperamen, yaitu:

a) Intensitas dan tempo hidup, dan

b)Perasaan-perasaan vital yg menyertainya, jd suasana perasaan individu (stimung).

Ewald membedakan adanya 3 macam temperamen, bersifat

kuantitatif, yang didasari atas kuat atau lemahnya biotonus, yaitu:

1. Temperamen sanguinis atau hipomanis, dengan biotonus kuat

2. Temperamen melancholis atau depresif, dengan biotonus lemah.

3. Temperamen biasa atau normal, dengan biotonus

sedang.

2. Watak (Character)

Secara teori Ewald membedakan watak atas 2, yaitu:

a) Watak yang dibawa sejak lahir (watak genotipis).

Yaitu aspek yang merupakan dasar daripada watak, watak genotipis ini erat kaitannya dengan keadaan fisiologis, yakni kualitas susunan syaraf pusat.

b) Watak yang diperoleh (watak phaenotipis).

Yakni watak yang telah dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman, dan pendidikan.

Dapat dilihat dalam bagan di bawah ini:

Intensitas dan tempo hidup

Temperamen

Suasana hati (Stimung)

Kepribadian Watak yang dibawa

sejak lahir

Kecederungang sso watak yg diperoleh Berperilaku

Lingkungan sekitar Pengalaman dan

Pendidikan

Bagan Kepribadian Menurut Ewald